Kolom  

e-Co Kampung

Oleh : Dr. Suhardin, M.Pd
(Dosen Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta)

Bojong Kulur  merupakan  salah satu desa yang terletak di Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat.  Desa ini   didami oleh   sekitar 52.000 (lima puluh dua ribu) penduduk  dengan tingkat  kepadatan 80 (delapan puluh) orang per kilometer.  letak desa yang sangat  strategis, sehingga   banyak dilirik oleh   para developer untuk pengembangan perumahan didesa ini.

Pada tanggal 28 November sampai dengan 29 Desember 2021, desa ini dijadikan   oleh Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Akhwalus Syakhsiyah (AS) dan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) sebagai pusat penyelenggaraan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Pelaksanaan KKN ini  mendapatkan sambutan yang luar biasa dan meriah dari warga masyarakat dan pemerintah setempat.

program prioritas  yang dikembangkan oleh mahasiswa KKN  adalah e-co kampung, dalam kegiatan e-Kampung ini  semua masyarakat dilibatkan untuk menjadikan kampung  Bojong Kulur sebagai kampung ramah lingkungan. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut, beberapa program pendampingan  dilakukan seperti  mendesain tempat pembuangan akhir sampah yang berbasis daur ulang,

membuat destinasi wisata kampung ramah lingkungan, membuat hidroponik, melatih anak-anak dan remaja untuk peduli lingkungan,  dan  melakukan sosialisasi dalam rangka meningkatkan partisipasi aktif   masyarakat untuk mewujudkan kampung ramah lingkungan.

Mereka membaur dengan warga, mendidik remaja, menyantuni anak, memberdayakan kepala keluarga, dan bekerja sama dengan pemerintah desa, dalam menjalankan berbagai program pemerintah yang berbasis terhadap layanan, santunan, kepedulian, untuk kesehatan dan pendidikan.

Semua dilakukan dengan didasarkan ketulusan sebagai wujud pengabdian masyarakat sivitas akademika Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta. Selamat dan sukses UIC, demikian komentar dari sebagian warga atas partisipasi KKN yang berlangsung di Bojong Kulur.

E-co Kampung yang dilakukan oleh mahasiswa, bagian kecil dari wujud partisipasi masyarakat sebagai perwujudan kepedulian untuk kembali melakukan recovery lingkungan kita yang sudah lumayan rusak, akibat eksploitasi manusia terhadap sumber daya alam untuk kepentingan pembangunan ekonomi.

Pengembangan areal pemukiman penduduk juga banyak menyisakan masalah terkait dengan kerusakan lingkungan. Tanah dibiarkan terlantar, tidak terurus, penguasaha menguasai tanah, membiarkan sampai dinyatakan lokasi tersebut telah mengalami penambahan nilai.

Ekosistemnya dirusak, hutan ditebangi, gundul, ditumbuhi ilalang, membuat lokasinya panas, rawan longsor (avalanche), dan potensi angin puting beliung (tornado).

Musim eksterem menurut para pakar ada yang bernama elnino, diartikan sebagai fenomena naiknya suhu permukaan laut Samudra Pasifik di atas normal, indikasinya terdapat perbedaan tekanan udara antara Tahiti dan Darwin yang disebut dengan Osilasi Selatan.

Osilasi Selatan menunjukkan perbedaan tinggi tekanan udara di Indonesia atau Pasifik Ekuator Barat dengan Pasifik Ekuator Timur, serta kuat atau lemahnya Sirkulasi Walker. Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika mengklasifikasikan intensitas El Nino menjadi tiga kategori, yaitu El Nino lemah, moderat, dan kuat.

El Nino rendah memiliki nilai SOI 0,5-1,0, El Nino moderat memiliki indeks SOI 1,0-2,0, dan El Nino kuat jika indeks SOI lebih dari 2,0. Penentuan intensitas El Nino bukanlah pengukuran sesaat. Dampaknya terhadap Indonesia, dapat menimbulkan musim kering, kemarau panjang, tanah fuso, mengalami kegagalan panen para petani.

Selain itu juga mengakibatkan kebakaran lahan dan kebakaran hutan. Puntung rokok, kembang api akan dapat memicu kebakaran di berbagai areal kering.

Selain El Nino, juga dikenal dengan La Nina, sekarang tengah dirasakan dan tengah dialami oleh bangsa Indonesia. Hal ini kebalikan dari El Nino, dimana terjadi pendinginan di kawasan Samuder Pasifik, sehingga terjadi pembentukan awan tebal, yang mendatangkan curah hujan yang tinggi, menimbulkan kebasahan (hidrometeorologis) banjir dan longsor di banyak wilayah.

Bencana banjir dan longsor bukan karena musimnya, tetapi karena ketidak seimbangan lingkungan akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia yang tuna regulasi, tuna literasi, tuna ekologis, dan tuna keadaban.

Keseimbangan (equalibrium) ekosistem perlu dipertahankan manusia sebagai amanah dari Allah SWT kepada manusia untuk menjaga, memelihara, memanfaatkan semua sumber daya alam yang ada, dengan cara memuliakannya.

Sumber daya alam, bagian dari ciptaan Tuhan yang perlu dihormati, dijaga, dipelihara dan dimuliakan, karena ia juga mengabdi terhadap Allah SWT yang telah menciptakannya untuk sesuatu fungsi dalam keseimbangan alam.

Manusia yang pongah dan serakah, tuna dalam perspektif, melakukan eksploitasi yang berlebihan membuat alam terganggu keseimbangannya, sehingga terjadilah berbagai bencana, banjir, longsor, angin topan.

Prinsip berbuat sedikit, kecil, terus menerus untuk kebaikan lingkungan alam dan sekitarnya, jauh lebih berharga ketimbang program massal yang dilakukan oleh perusahaan raksasa untuk pencitraan,

tetapi telah terang benderang dan kasat mata melakukan pembalakan liar, deforestrasi, pembukaan lahan gila-gilaan, pembukaan perkebunan yang tidak terhitung, pembuangan limbah pabrik tanpa resycling (daur ulang), sehingga merusak biota air, pencemaran tanah, pencemaran pantai dan merenggut kesehatan masyarakat.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan program e-co Kampung, kampung ramah lingkungan, memotivasi warga untuk peduli terhadap lingkungan, bagaikan tetesan embun di kegersangan nurani anak bangsa yang tuna ekologis, miskin adab,

rabun penglihatan, tuli pendengaran, tumpul nurani, akibat besarnya tekanan kepentingan dan hawa nafsu sarakah terhadap sumber daya alam.  Wallahu ‘alam, nashrun minallah wa fathun qarib, wabasy syiril mukminin, nun walqalami wama yasthurun.